Foto Istimewa
seputarmusikindo.com - Jakarta, 8 November 2025 — Unit Psychobilly asal Temanggung, Prison Of Blues (POB), menutup rangkaian Tour Indonesia–Eropa 2025 dengan capaian signifikan. Selama tiga bulan perjalanan, mereka menyelesaikan 50 pertunjukan lintas Indonesia dan enam negara Eropa, sekaligus memperkuat posisi mereka sebagai salah satu band Psychobilly paling aktif di kawasan Asia.
Dalam tur ini, Prison Of Blues kembali memenuhi undangan salah satu festival Psychobilly terbesar dunia yang berlangsung di Oberhausen, Jerman. Kehadiran mereka tahun ini menjadi yang kelima kalinya. Pada kesempatan tersebut, band juga menggandeng Dellu Uyee sebagai kolaborator vokal.
“Untuk Tour Eropa kali ini kami kembali hadir di festival besar tersebut, dan kami mengajak Dellu Uyee untuk mengisi vokal,” kata Bayu Randu, gitaris sekaligus produser POB.
Prison Of Blues tampil di Jerman, Ceko, Belgia, Hungaria, Austria, dan Belanda, serta sejumlah kota di Indonesia. Formasi mereka saat ini diperkuat oleh Bowo (vokal & gitar), Bayu Randu (gitar 1 & produser), Dhana (contrabass), Topan Murdox (gitar 2), dan Endy Barock (drum).
Sejak terbentuk pada 2007 di Temanggung, Prison Of Blues telah menelurkan 11 album kompilasi internasional dan 4 album solo. Reputasi mereka di Eropa terbukti kuat. Dellu Uyee bahkan mengaku tak menyangka bahwa band ini memiliki fanbase yang begitu besar.
“Saya baru pertama ikut tur Eropa bareng POB. Kaget banget lihat fansnya. Ada yang datang dari California, Spanyol, sampai Italia hanya untuk menyaksikan mereka,” ujarnya.
Foto Istimewa
Selain mempromosikan album keempat mereka, tur ini juga menjadi ruang bagi POB untuk mengangkat elemen budaya Indonesia ke kancah global. Mereka tampil dengan atribut kain Nusantara dan mempopulerkan ikon-ikon horor lokal seperti Pocong, Kuntilanak, dan Santet.
“Kami selalu membawa misi promosi budaya. Termasuk ngenalin hantu-hantu Indonesia ke publik Eropa,” tutur Bowo, vokalis sekaligus pendiri band.
Tur ditutup pada 31 Oktober 2025 di festival Psychobilly Earthquake 2025, tempat POB kembali memukau ribuan penonton.
Meski memperoleh sambutan luar biasa dari penggemar Eropa, genre Psychobilly masih belum memiliki panggung besar di Indonesia.
“Yang unik dari festival ini adalah fanbase kami. Mereka kira kami band besar di Indonesia. Setelah kami jelaskan kalau scene Psychobilly di sini hampir nggak ada, mereka kaget,” ujar Endy Barock.
Selama tur, Prison Of Blues juga mencermati tata kelola royalti musik di Eropa yang dinilai jauh lebih tertib dan transparan.
“Setiap tampil, kami wajib mengisi formulir dari GEMA, lengkap dengan daftar lagu dan penciptanya. Sistemnya rapi, dan meskipun membawakan lagu Motorhead atau Queen, kami tak perlu repot mengurus perizinan,” jelas Dhana dan Topan.
Rangkaian tur ini turut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan serta sejumlah sponsor swasta. Kolaborasi ini memungkinkan Prison Of Blues membawa identitas musik Psychobilly Indonesia ke level internasional, sekaligus memperkuat diplomasi budaya melalui jalur musik independen.
