seputarmusikindo.com - Lampu-lampu stadion Beach City International Stadium, Jakarta, belum sepenuhnya padam ketika denting pembuka Metropolis, Pt. 1: The Miracle and the Sleeper mulai terdengar, Sabtu (7/2). Namun sejak detik itu, jelas bahwa malam tersebut bukan hanya tentang konser. Ia adalah tentang kepulangan—tentang sebuah lingkaran panjang yang akhirnya menutup dirinya sendiri.
Dream Theater datang ke Jakarta atas persembahan promotor Rajawali Indonesia, dalam rangka An Evening With Dream Theater – 40th Anniversary Tour 2026, merayakan empat dekade perjalanan mereka sebagai salah satu pilar progressive metal dunia. Tetapi di atas panggung, perayaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih personal. Formasi lengkap Dream Theater—James LaBrie, John Petrucci, John Myung, Jordan Rudess, dan Mike Portnoy—kembali berdiri berdampingan, utuh, seperti halaman lama yang akhirnya disambung kembali ke buku sejarah band.
"Jakarta… lihatlah suasana di sini malam ini. Ini pemandangan yang indah,” ujar James LaBrie, suaranya tenggelam dalam sorak ribuan penonton yang seakan sadar: mereka tidak hanya menonton band favorit, tetapi menyaksikan momen yang kelak akan dikenang.
Sorotan malam itu tak terelakkan tertuju pada Mike Portnoy. Setelah 13 tahun berpisah dari Dream Theater, sang drummer kembali ke posisi yang selama ini lekat dengan identitas band. Ketika LaBrie memperkenalkannya—“saudara kami dari ibu berbeda”—teriakan nama Portnoy menggema, lebih keras dari distorsi gitar atau gebukan bass drum. Portnoy hanya tersenyum, menangkupkan tangan, memberi hormat. Gestur sederhana, namun sarat makna.
Bagi penggemar Dream Theater, Portnoy bukan sekadar pemain drum. Ia adalah penjaga ritme sekaligus arsitek musikal—sosok yang selama bertahun-tahun membentuk cara band ini bercerita lewat ketukan. Pola poliritmik, perubahan birama yang mendadak namun organik, hingga permainan dinamika yang ekstrem, kembali terdengar akrab malam itu. Seolah drum tidak hanya menjaga tempo, tetapi juga ingatan.
Fotografer panggung musik Budi Susanto, yang acapkali menyaksikan dream theater manggung disetiap era, dan kali ini mengabadikan konser tersebut dari dekat, menangkap perbedaan atmosfer yang sulit dijelaskan lewat angka atau setlist. “Yang hadir semalam bukan cuma menonton konser,” katanya. “Mereka sedang merayakan rekonsiliasi—antara band dengan sejarahnya, dan antara penggemar dengan kenangan mereka sendiri.”
Nuansa itu terasa jelas ketika lagu-lagu seperti The Mirror, Peruvian Skies, dan As I Am dimainkan. Dentuman drum Portnoy tidak terdengar seperti nostalgia yang dipaksakan, melainkan kesinambungan yang alami. Dalam progressive metal—genre yang sering dicap rumit dan teknis—malam itu Dream Theater justru terdengar manusiawi. Kompleks, tetapi hangat.
Selepas jeda, band kembali ke panggung dengan materi dari album terbaru mereka, Parasomnia. Lagu-lagu seperti In the Arms of Morpheus, Night Terror, dan The Shadow Man Incident dibawakan dengan energi penuh. James LaBrie menyebut malam itu bertepatan dengan satu tahun perilisan album tersebut—sebuah penanda bahwa kembalinya Portnoy bukan hanya simbolis, melainkan juga kreatif. Parasomnia terdengar seperti album yang menatap ke depan, tetapi berpijak kuat pada akar Dream Theater.
Menjelang akhir konser, suasana stadion berubah khidmat. Saat The Spirit Carries On dimainkan, ribuan lampu ponsel menyala, menciptakan lautan cahaya yang sunyi namun menggetarkan. LaBrie mengajak penonton bernyanyi bersama, dan untuk beberapa menit, jarak antara panggung dan tribun seolah menghilang.
Pull Me Under menutup malam itu secara resmi, tetapi secara emosional, konser ini sulit disebut selesai. Bagi banyak orang, ia akan terus hidup sebagai momen ketika Dream Theater kembali utuh—ketika musik progresif tidak hanya berbicara tentang teknik, melainkan tentang kesinambungan, memori, dan keberanian untuk pulang.
Dan malam itu, di Jakarta, ritme akhirnya benar-benar pulang ke rumah.


