Keshya Valerie Ubah Rutinitas Sehari-hari Jadi Lagu Emosional “laundry day” bernuansa Soul-funk

0


Seputarmusikindo.com - Setelah debut lewat single “Adegan Dewasa”, Keshya Valerie kembali menunjukkan sisi yang lebih personal melalui rilisan terbarunya bertajuk “laundry day”. Jika sebelumnya ia tampil dengan humor dan wordplay khas Gen-Z, kali ini Keshya hadir lebih jujur, rapuh, dan emosional lewat lagu yang membahas perjuangan bertahan di masa sulit.


“laundry day” bukan sekadar lagu tentang mencuci baju. Bagi Keshya, aktivitas sederhana itu menjadi simbol reset dalam hidup—cara kecil untuk mengambil kembali kendali atas diri sendiri di tengah kondisi mental yang berantakan. “Doing chores means that we know we deserve a clean home,” ujar Keshya.

Lagu ini lahir dari pengalaman pribadinya saat tinggal sendiri di Belanda selama pandemi COVID-19. Di tengah kebebasan hidup mandiri sambil menjalani kuliah di Universiteit Leiden, Keshya justru menghadapi kesunyian yang perlahan menggerogoti kesehariannya.

Cuaca yang kelabu, minim interaksi sosial, hingga ritme hidup yang berubah akibat kuliah daring membuatnya terjebak dalam fase depresi ringan berkepanjangan atau distimia. Ia mengaku sempat mengurung diri seperti hikikomori, kehilangan nafsu makan, hingga membiarkan cucian dan pekerjaan rumah menumpuk menjadi rutinitas baru.

Di titik itulah, aktivitas sederhana seperti mencuci pakaian terasa menjadi langkah kecil yang sangat berarti. Alih-alih mendramatisir pengalaman tersebut, Keshya memilih mengubahnya menjadi lagu yang hangat dan menenangkan—layaknya pelukan di hari dingin.

Diproduseri kembali oleh Kafin Sulthan, “laundry day” membawa nuansa soul-funk yang kuat dengan sentuhan retro yang nostalgik. Referensi musik seperti Vulfpeck, Theo Katzman, Parcels, hingga Corinne Bailey Rae terasa melebur dalam aransemennya.

Keshya juga mengaku banyak terinspirasi dari musisi perempuan di balik kibor seperti Norah Jones, Carole King, serta Sara Bareilles dalam membentuk karakter sound lagu ini.

Berbeda dari single sebelumnya yang lebih elektronik, “laundry day” mengandalkan permainan instrumen nyata dari Austin Ong di gitar, Kafin Sulthan di keyboard, serta Mason Pantouw di bass. Hasilnya adalah warna musik yang terasa lush, hangat, sekaligus emosional.

Menariknya, proses penulisan hingga produksi lagu ini hanya memakan waktu kurang dari dua bulan. Keshya menyebut “laundry day” sebagai karya yang paling merepresentasikan dirinya sejauh ini.

“‘laundry day’ itu aku banget, it’s me immortalised in song. Aku merasa kembali ke akar musik yang benar-benar aku suka,” ungkapnya. Ia juga ingin lagu ini terdengar seperti rilisan dari 10 hingga 15 tahun lalu—nostalgik, retro, namun tetap relevan dengan sentuhan lirik modern khas generasinya.

Bagi Keshya, “laundry day” adalah simbol pelepasan. Sebuah karya yang lahir dari keberanian untuk tampil apa adanya dan menerima sisi paling rapuh dari diri sendiri. Lewat lagu ini, ia ingin menyampaikan bahwa kebangkitan tidak selalu datang lewat langkah besar. Kadang, semuanya dimulai dari hal sesederhana mencuci baju.

Selain aktif merilis karya solo, Keshya sebelumnya dikenal lewat ajang The Voice Kids Indonesia 2016 serta kolaborasinya di lagu viral “Candyrella” bersama Paul Partohap. Ia juga sempat menjadi backing vocal untuk lagu “Take It Slow” milik Farrel Hilal.

Sementara itu, artwork “laundry day” dibuat sederhana namun penuh makna. Visual jemuran pakaian dengan nuansa rumah yang hangat dipilih untuk memperkuat rasa familier yang ingin dibangun Keshya. Foto-fotonya sendiri diabadikan oleh Dinar Lestari dengan sentuhan visual yang dekat, hangat, dan sedikit melankolis.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)