seputarmusikindo.com - South Jakarta – Grup musik Aksaranata kembali menghadirkan karya terbaru melalui single berjudul “Tertinggal Di Banyuwangi”, sebuah lagu bernuansa melankolis yang mengangkat tema kehilangan, trauma, serta janji yang tak pernah menemukan titik akhir.
Lagu ciptaan Jeropoint ini diaransemen bersama para personel Aksaranata, yakni Kresti, Jeropoint, Arie, Rio, dan Ritchi. Mengambil inspirasi dari atmosfer magis Banyuwangi, lagu tersebut menyajikan kisah tentang perasaan yang terus tertinggal, bahkan seolah melampaui batas antara kehidupan dan kematian.
Melalui lirik-lirik yang sarat emosi, “Tertinggal Di Banyuwangi” menelusuri jejak luka, penyesalan, hingga dendam yang masih hidup dalam ingatan. Nuansa mistis yang dibangun dalam lagu ini menjadi medium untuk menyampaikan persoalan yang dekat dengan pengalaman manusia, yakni keinginan untuk menuntaskan hal-hal yang belum sempat terselesaikan.
Single ini juga memperkuat benang merah yang selama ini hadir dalam karya-karya Aksaranata. Band tersebut konsisten mengeksplorasi tema kehilangan, kematian, dan kenangan yang terus membekas meski waktu terus berjalan.
Menariknya, “Tertinggal Di Banyuwangi” dipercaya menjadi soundtrack resmi film horor “Sihir Tanah Kubur” produksi MVP Pictures. Lagu tersebut kini telah tersedia dan dapat dinikmati melalui berbagai platform layanan musik digital.
Eksplorasi Jazz Folk Horror
Aksaranata merupakan band asal Bandung yang dikenal dengan karakter musik unik yang mereka sebut Jazz Folk Horror, perpaduan unsur folk, jazz, dan atmosfer mistis yang khas. Formasi band ini terdiri atas Arie, Ritchie, Resti, dan Jeropoint.
Perjalanan musikal Aksaranata dimulai pada 2022 lewat album debut “Di Ambang Kematian”, yang memperkenalkan identitas mereka melalui aransemen folk jazz dengan sentuhan eksperimental.
Pada 2024, mereka kembali menarik perhatian publik melalui single “Koe Lan Aku”, yang didapuk sebagai soundtrack film SUMALA. Dalam karya tersebut, Aksaranata memadukan elemen folk horror dengan kekayaan budaya Jawa melalui penggunaan instrumen tradisional serta vokal sinden, menghasilkan warna musik yang magis dan berkarakter.
Kini, melalui “Tertinggal Di Banyuwangi”, Aksaranata kembali mengukuhkan identitas musikalnya sebagai kelompok musik yang tidak hanya menghadirkan lagu, tetapi juga merangkai kisah-kisah kelam dan emosional ke dalam sebuah pengalaman mendengarkan yang mendalam.

