seputarmusikindo.com - Jakarta, 10 Februari 2026 — Kiprah film Indonesia di panggung internasional kian menguat sepanjang 2025. Berdasarkan riset Cinema Poetica, sebanyak 126 film Indonesia beredar di festival internasional, meningkat signifikan dibanding 78 film pada 2024 dan 73 film pada 2023. Selain itu, 9 proyek film turut ambil bagian dalam laboratorium dan forum pendanaan global.
Sepanjang tahun lalu, film Indonesia hadir di 91 festival di 36 negara yang tersebar di Asia, Australia, Eropa, hingga Amerika. Tak hanya sekadar tampil, karya sineas Tanah Air juga membawa pulang 48 penghargaan internasional untuk film yang telah diproduksi, terdiri dari 23 penghargaan fiksi pendek, 18 fiksi panjang, 5 dokumenter pendek, dan 2 dokumenter panjang. Empat penghargaan lainnya diraih proyek film yang masih dalam tahap pengembangan.
Adrian Jonathan dari Cinema Poetica menilai capaian ini menunjukkan sinema Indonesia semakin diperhitungkan secara global. Menurutnya, dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, dalam memfasilitasi kehadiran sineas di forum dan festival strategis berperan penting dalam memperluas jejaring internasional dan memperkuat ekosistem perfilman nasional.
Salah satu sorotan utama 2025 datang dari film Pangku, debut penyutradaraan film panjang Reza Rahadian. Film ini meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF) 2025, termasuk FIPRESCI Award dan KB Vision Audience Award, serta memenangkan NETPAC Jury Prize di QCinema International Film Festival 2025 di Filipina. Di dalam negeri, Pangku mencatat lebih dari 560 ribu penonton dan memenangkan Film Cerita Panjang Terbaik FFI 2025.
Film populer lain juga mencatat prestasi internasional. Jumbo mendapat penayangan di bioskop Meksiko sejak Januari 2026 dan telah mengantongi hak edar di lebih dari 40 negara. Sementara Agak Laen: Menyala Pantiku! tayang di Malaysia hanya sepekan setelah rilis domestik. Di Indonesia, kedua film tersebut meraih lebih dari 10 juta penonton dan masuk jajaran film terlaris di Asia Tenggara.
Tak hanya film panjang, film pendek dan dokumenter Indonesia juga menunjukkan performa kuat. Little Rebels Cinema Club, Daly City, dan Sammi, Who Can Detach His Body Parts lolos ke berbagai festival dunia, meraih puluhan penghargaan, serta memperoleh kualifikasi pendaftaran Academy Awards 2026.
Dari sisi warisan sinema, film klasik Turang (1957) karya Bachtiar Siagian diputar di International Film Festival Rotterdam (IFFR) 2025 dalam program khusus 70 tahun Konferensi Asia Afrika. La Cinémathèque française juga menggelar retrospeksi 10 film Indonesia untuk memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Perancis.
Sementara itu, skema ko-produksi internasional terus berkembang. Film Renoir, kolaborasi Indonesia dengan Jepang, Prancis, Singapura, dan Filipina, masuk seleksi kompetisi Cannes dan meraih sejumlah penghargaan internasional. Beberapa proyek sineas Indonesia lainnya juga mendapat dukungan dari forum pendanaan bergengsi dunia.
Rangkaian capaian ini menegaskan bahwa sinema Indonesia tak hanya hadir di festival besar dan pasar komersial, tetapi juga di ruang alternatif, laboratorium kreatif, hingga forum akademik global. Tren positif ini menunjukkan film Indonesia semakin kokoh sebagai bagian dari ekosistem sinema dunia.

